Kembali ke jurnal
Programming·7 menit

Belajar dengan Membangun

Tentang deploy yang gagal, AI sebagai partner, dan produk kecil yang menjadi ruang belajar paling nyata.

4 Juli 2026

Mulai dari masalah yang dekat

Saya tidak memulai perjalanan software dari ide aplikasi yang besar. Saya memulai dari pertanyaan sederhana: pekerjaan apa yang masih berulang, bagian mana yang membuat orang lelah, dan apa yang dapat dibuat lebih mudah?

Saya melihat absensi sekolah masih banyak dilakukan secara manual. Dari kegelisahan itu lahir Smart-Att, sebuah upaya untuk membantu guru menghemat waktu melalui sistem presensi yang lebih sederhana.

Saya juga melihat banyak vendor masih mencatat pekerjaan melalui buku atau spreadsheet yang tersebar. Invoice Vendor dibuat agar administrasi mereka menjadi lebih rapi. Ketika kebutuhan operasionalnya berkembang, lahirlah gagasan Mamoto Office sebagai sistem ERP untuk vendor foto dan video.

Kegagalan adalah bagian dari build

Pada 2025, saya belajar menggunakan AI seperti ChatGPT dan Gemini. Berkali-kali saya gagal melakukan deploy. Beberapa aplikasi tidak pernah berhasil berjalan, tetapi setiap kegagalan memaksa saya memahami masalah sedikit lebih dalam.

Memasuki 2026, saya mulai membangun Smart-Att, Invoice Vendor, Mamoto Office, Dompet Keluarga, Proyekin.id, dan Kartu Pembayaran Kas TK sebagai ruang belajar yang nyata.

Versi kecil memberi jawaban nyata

Membaca dokumentasi penting, tetapi produk yang disentuh pengguna memberikan jenis pelajaran yang berbeda. Tombol yang terasa jelas bagi pembuatnya bisa membingungkan orang lain. Alur yang terlihat sederhana di layar dapat bertabrakan dengan kebiasaan kerja di lapangan.

Bangun versi kecil. Dengarkan dengan saksama. Perbaiki terus-menerus.

Saya masih membangun sambil belajar. Bagi saya, itu bukan kekurangan proses—itulah prosesnya.