Kembali ke jurnal
Photography·5 menit

Cerita Selalu Datang Sebelum Kamera

Catatan dari perjalanan freelancer hingga mendirikan IDM Project: kamera penting, tetapi empati menjaga cerita tetap hidup.

12 Juli 2026

Belajar dari lapangan

Sekitar 2015, saya mulai aktif mengerjakan foto dan video sebagai freelancer bersama berbagai vendor dokumentasi wedding. Setiap acara menjadi ruang belajar: memahami ritme hari, bekerja dengan tim yang berbeda, dan tetap siap ketika momen hanya terjadi satu kali.

Pada 2018, saya semakin serius menekuni wedding videography. Saya mulai memahami bahwa kamera yang baik memang membantu menangkap detail, tetapi kamera tidak dapat memberi tahu kapan seorang ayah sedang menahan haru atau kapan pengantin membutuhkan ruang sejenak dari keramaian.

Hadir tanpa mengambil alih

Itulah sebabnya pekerjaan selalu dimulai dengan mengamati. Saya mencoba memahami pasangan, keluarga, ritme acara, dan hal-hal kecil yang berarti bagi mereka.

Film pernikahan yang jujur lahir ketika orang dapat menjadi diri sendiri. Tugas kami adalah siap dan cukup dekat, tetapi tidak mengambil alih momen.

Teknik membuat gambar terlihat baik. Empati membuatnya terasa benar.

Dari freelancer menjadi IDM Project

Kepercayaan klien terus bertumbuh. Banyak pasangan tidak lagi hanya membutuhkan video, tetapi juga menginginkan dokumentasi foto dan video dalam satu tim yang terorganisir.

Kebutuhan itulah yang mendorong saya mendirikan IDM Project pada 2020. Perjalanan kami kemudian berkembang dari wedding menuju company profile, gathering, outbound, seminar, rapat, ulang tahun, dan berbagai event lainnya.

Namun prinsipnya tetap sama: cerita selalu datang sebelum kamera.